Hingga September 2026

Langganan Sekarang
Logo Bakoelku
Trial Tutorial Affiliate Blog
Masuk Coba Gratis
Keuangan & Pembukuan UMKM

Cara Menentukan Harga Jual Produk Supaya Tetap Untung

Menentukan harga jual produk tidak cukup hanya dengan menambahkan keuntungan pada harga beli. Bisnis perlu menghitung seluruh biaya, menentukan target keuntungan, memahami perbedaan markup dan margin, serta mempertimbangkan kondisi pasar. Dengan perhitungan yang tepat dan pencatatan transaksi yang rapi, harga dapat tetap kompetitif sekaligus menghasilkan keuntungan yang sehat bagi bisnis.

Tim Bakoelku
07 Oktober 2026 8 menit baca Keuangan & Pembukuan UMKM
Cara Menentukan Harga Jual Produk Supaya Tetap Untung

Memahami Konsep Dasar Harga Jual Produk

Menentukan harga jual bukan sekadar menambahkan keuntungan di atas harga beli atau biaya produksi. Harga yang terlalu rendah dapat membuat omzet terlihat besar tetapi laba sebenarnya tipis, sedangkan harga yang terlalu tinggi dapat membuat produk sulit bersaing.

Karena itu, cara menentukan harga jual perlu mempertimbangkan biaya, target keuntungan, kondisi pasar, karakteristik pelanggan, serta biaya penjualan yang mungkin muncul.

Apa Itu Harga Jual?

Harga jual adalah nilai yang dibebankan kepada pelanggan ketika suatu produk atau jasa ditawarkan. Bagi bisnis, harga jual harus mampu menutup biaya yang berkaitan dengan produk sekaligus memberikan keuntungan yang sesuai dengan target usaha.

Dalam praktiknya, harga jual juga perlu memperhitungkan biaya seperti kemasan, tenaga kerja, distribusi, promosi, biaya transaksi, dan biaya operasional yang relevan.

Mengapa Harga Jual Tidak Bisa Ditentukan Sembarangan?

Harga jual memengaruhi beberapa aspek penting dalam bisnis, antara lain:

  • Laba per produk, yaitu keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan.
  • Arus kas, karena harga yang tidak mencukupi dapat membuat bisnis kesulitan membiayai operasional.
  • Daya saing, terutama ketika pelanggan mudah membandingkan harga.
  • Persepsi nilai produk, karena harga juga dapat memengaruhi cara konsumen melihat kualitas atau positioning produk.
  • Kemampuan bisnis berkembang, sebab keuntungan dibutuhkan untuk membiayai pengembangan usaha.

Bank Indonesia juga menyediakan pedoman pencatatan transaksi keuangan untuk UMK dan menekankan pentingnya pencatatan transaksi serta laporan keuangan dalam pengelolaan usaha. Artinya, keputusan harga sebaiknya didasarkan pada catatan keuangan, bukan sekadar perkiraan.

Komponen yang Perlu Dihitung Sebelum Menentukan Harga

Sebelum menentukan angka harga jual, identifikasi seluruh biaya yang berkaitan dengan produk.

Biaya Bahan atau Pembelian Produk

Untuk bisnis produksi, biaya dapat mencakup bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya produksi yang berkaitan dengan pembuatan barang.

Sementara itu, bisnis perdagangan dapat menggunakan harga pembelian barang sebagai salah satu komponen utama.

Misalnya, sebuah usaha membeli produk seharga Rp40.000 per unit. Jika ada biaya kemasan Rp2.000 dan biaya pengiriman dari pemasok yang dialokasikan Rp1.000 per unit, biaya langsungnya menjadi Rp43.000.

Biaya Operasional dan Biaya Penjualan

Jangan hanya menghitung harga beli atau bahan baku. Biaya lain juga perlu diperhatikan, misalnya:

  • Kemasan dan label.
  • Biaya tenaga kerja.
  • Sewa tempat.
  • Listrik dan internet.
  • Promosi.
  • Komisi marketplace atau platform.
  • Biaya pembayaran.
  • Biaya distribusi.
  • Penyusutan peralatan jika relevan.

Tidak semua biaya harus dibebankan secara langsung ke satu produk. Untuk biaya bersama seperti sewa dan listrik, bisnis dapat mengalokasikannya berdasarkan metode yang konsisten.

Margin Keuntungan

Setelah mengetahui biaya, tentukan keuntungan yang ingin diperoleh.

Margin tidak harus sama untuk semua produk. Produk dengan perputaran cepat dapat memiliki margin berbeda dengan produk khusus, produk dengan risiko stok tinggi, atau produk yang membutuhkan pelayanan tambahan.

Yang penting, target margin harus realistis terhadap biaya dan kondisi pasar.

Cara Menentukan Harga Jual dengan Rumus yang Tepat

Salah satu pendekatan sederhana adalah cost-plus pricing, yaitu menentukan harga berdasarkan total biaya kemudian menambahkan margin keuntungan.

Rumus sederhananya:

Harga Jual = Total Biaya per Unit + Keuntungan yang Ditargetkan

Jika menggunakan persentase markup:

Harga Jual = Biaya per Unit × (1 + Persentase Markup)

Metode Cost-Plus Pricing

Metode ini cocok sebagai titik awal karena membantu memastikan biaya utama sudah diperhitungkan.

Contohnya, sebuah UMKM memiliki total biaya Rp50.000 untuk menghasilkan satu produk. Pemilik usaha menargetkan markup 30%.

Perhitungannya:

Harga Jual = Rp50.000 × (1 + 30%)
Harga Jual = Rp65.000

Dengan demikian, harga awal yang dapat dipertimbangkan adalah Rp65.000 per unit.

Namun, angka tersebut belum otomatis menjadi harga final. Pemilik usaha tetap perlu membandingkannya dengan harga pasar dan kemampuan pelanggan.

Perlu diperhatikan pula bahwa markup berbeda dengan margin. Jika produk berbiaya Rp50.000 dijual Rp65.000, keuntungan Rp15.000 setara dengan markup 30% terhadap biaya, tetapi margin terhadap harga jual sekitar 23,1%.

Kesalahan memahami dua istilah ini dapat membuat target keuntungan meleset.

Menyesuaikan Harga dengan Kondisi Pasar

Setelah mendapatkan harga berdasarkan biaya, lakukan pengecekan pasar.

Perhatikan:

  1. Harga produk sejenis.
  2. Kualitas dan fitur yang ditawarkan.
  3. Target pelanggan.
  4. Posisi merek.
  5. Saluran penjualan.
  6. Biaya tambahan yang ditanggung pelanggan.
  7. Respons pelanggan terhadap harga.

Harga kompetitor sebaiknya digunakan sebagai referensi, bukan angka yang harus disalin.

Jika biaya bisnis jauh lebih tinggi daripada kompetitor, solusinya tidak selalu menurunkan harga. Bisnis dapat mengevaluasi biaya, meningkatkan nilai produk, memperbaiki efisiensi, atau memilih segmen pelanggan yang lebih sesuai.

Perbandingan Metode Penentuan Harga Jual

MetodeDasar PenentuanKelebihanKekuranganCocok untuk
Cost-plus pricingBiaya + keuntunganSederhana dan mudah dihitungKurang mempertimbangkan persepsi pasarUMKM dan produk dengan biaya relatif jelas
Market-based pricingHarga pasar/kompetitorLebih mempertimbangkan kondisi persainganBerisiko mengabaikan struktur biaya sendiriProduk dengan banyak pesaing
Value-based pricingNilai yang dirasakan pelangganDapat mendukung margin lebih tinggiMembutuhkan pemahaman pelanggan yang baikProduk dengan diferensiasi kuat
Competitive pricingPosisi terhadap harga kompetitorMembantu menentukan posisi hargaDapat memicu perang hargaPasar dengan persaingan tinggi

Dalam praktiknya, bisnis tidak harus menggunakan satu pendekatan secara mutlak. Biaya dapat menjadi batas bawah, pasar menjadi referensi, sedangkan nilai produk membantu menentukan posisi harga.

Studi Kasus Sederhana Penentuan Harga Jual

Contoh berikut merupakan ilustrasi hipotetis.

Sebuah usaha menjual makanan kemasan. Biaya per unit terdiri dari:

  • Bahan dan produksi: Rp18.000
  • Kemasan: Rp2.000
  • Alokasi biaya operasional: Rp3.000
  • Promosi dan biaya penjualan: Rp2.000

Total biaya per unit:

Rp18.000 + Rp2.000 + Rp3.000 + Rp2.000 = Rp25.000

Jika bisnis menetapkan markup 40%:

Rp25.000 × 140% = Rp35.000

Harga Rp35.000 kemudian dibandingkan dengan kondisi pasar.

Jika produk serupa berada di kisaran Rp32.000 sampai Rp38.000 dan produk memiliki kualitas serta target pasar yang sebanding, harga Rp35.000 dapat menjadi titik awal yang masuk akal.

Namun, jika produk dijual melalui platform yang mengenakan biaya tertentu atau sering diberikan diskon, biaya tersebut harus dimasukkan ke simulasi agar keuntungan aktual tidak tergerus.

Tips Menentukan Harga Jual agar Tetap Menguntungkan

Beberapa praktik yang dapat membantu menjaga harga tetap sehat:

  • Hitung biaya secara berkala. Harga bahan baku dan biaya operasional dapat berubah.
  • Pisahkan uang bisnis dan pribadi. Ini memudahkan pengukuran biaya dan keuntungan.
  • Catat setiap transaksi. Pencatatan yang rapi membantu mengevaluasi kinerja produk.
  • Gunakan beberapa skenario harga. Simulasikan harga normal, harga promosi, dan harga setelah biaya penjualan.
  • Evaluasi produk berdasarkan laba, bukan hanya omzet.
  • Perhitungkan diskon sejak awal. Jangan menetapkan harga normal tanpa memikirkan strategi promosi.
  • Pantau harga pasar. Perubahan kompetisi dapat memengaruhi posisi produk.
  • Evaluasi produk yang lambat terjual. Harga mungkin bukan satu-satunya masalah, tetapi perlu diuji sebagai salah satu faktor.

Pencatatan digital juga dapat membantu bisnis melihat transaksi dan laporan secara lebih terstruktur. Bank Indonesia mencatat bahwa penggunaan aplikasi pencatatan keuangan dapat mempermudah UMKM mencatat transaksi dan menghasilkan laporan keuangan secara digital.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menentukan Harga

Pertama, hanya menggunakan harga beli sebagai dasar.
Biaya kemasan, promosi, operasional, dan biaya transaksi dapat mengurangi keuntungan.

Kedua, mengikuti harga kompetitor tanpa menghitung biaya sendiri.
Harga pesaing belum tentu sesuai dengan struktur biaya bisnis Anda.

Ketiga, mencampur markup dan margin.
Keduanya menggunakan dasar perhitungan berbeda sehingga target keuntungan bisa salah.

Keempat, terlalu sering memberikan diskon tanpa simulasi.
Diskon yang besar dapat menghapus sebagian besar margin.

Kelima, tidak memperbarui harga.
Kenaikan biaya bahan, distribusi, atau operasional dapat membuat harga lama tidak lagi menguntungkan.

FAQ

Bagaimana cara menentukan harga jual produk yang paling sederhana?

Mulai dengan menghitung total biaya per unit, kemudian tambahkan keuntungan yang ditargetkan. Setelah itu, bandingkan hasilnya dengan harga pasar dan sesuaikan berdasarkan nilai produk serta target pelanggan.

Apakah harga jual harus lebih tinggi dari harga kompetitor?

Tidak selalu. Harga dapat lebih tinggi jika produk menawarkan nilai tambahan yang jelas. Sebaliknya, harga yang lebih rendah juga perlu tetap mampu menutup biaya dan menghasilkan keuntungan.

Apa perbedaan markup dan margin?

Markup menghitung keuntungan berdasarkan biaya, sedangkan margin menghitung keuntungan sebagai persentase dari harga jual. Karena dasar perhitungannya berbeda, angka markup dan margin tidak dapat dianggap sama.

Apakah biaya promosi harus dimasukkan dalam harga jual?

Jika promosi merupakan bagian rutin dari aktivitas penjualan, biayanya sebaiknya diperhitungkan dalam analisis harga agar keuntungan setelah promosi tetap sesuai target.

Bagaimana menentukan harga jika produk sering didiskon?

Buat simulasi harga normal dan harga setelah diskon. Pastikan harga setelah diskon masih berada pada tingkat yang dapat menutup biaya dan memberikan keuntungan yang dapat diterima.

Kapan harga jual perlu dievaluasi?

Evaluasi ketika biaya berubah, kompetisi berubah, strategi penjualan berubah, atau laba aktual berbeda jauh dari target. Evaluasi berkala juga membantu menemukan produk yang kurang menguntungkan.

Apakah aplikasi kasir dapat membantu menentukan harga jual?

Aplikasi kasir tidak menggantikan analisis strategi harga, tetapi pencatatan transaksi yang rapi dapat membantu pemilik usaha memahami penjualan, produk yang laku, dan kinerja bisnis sebagai dasar evaluasi harga.

Kesimpulan

Cara menentukan harga jual yang sehat dimulai dari pemahaman terhadap seluruh biaya, bukan sekadar harga beli produk. Setelah biaya dihitung, bisnis dapat menentukan target keuntungan, menggunakan metode seperti cost-plus pricing, kemudian menguji hasilnya terhadap kondisi pasar dan nilai yang diterima pelanggan.

Harga juga tidak seharusnya dianggap sebagai angka permanen. Perubahan biaya, kompetitor, perilaku pelanggan, dan strategi promosi dapat membuat harga perlu dievaluasi kembali.

Dengan pencatatan transaksi yang konsisten, pemilik bisnis dapat mengambil keputusan harga berdasarkan data yang lebih jelas. Tujuannya bukan sekadar menjual lebih banyak, tetapi memastikan setiap penjualan memberikan kontribusi yang sehat terhadap keberlangsungan bisnis.
Ingin pengelolaan transaksi bisnis yang lebih rapi dan mudah dipantau? Gunakan Bakoelku untuk membantu mencatat transaksi penjualan dan mengelola aktivitas kasir secara lebih terstruktur. Dengan pencatatan yang lebih tertata, Anda dapat memiliki data yang lebih baik sebagai dasar mengevaluasi harga, penjualan, dan perkembangan bisnis.